Sinaboi Masih Dibayangi Malaria, Pemkab Rohil Diminta Bertindak Lebih Serius

EDITOR : SAH SIANDI LUBIS

Masyarakat menilai upaya penanggulangan malaria masih bersifat sementara. Pemerintah diminta menghadirkan langkah pencegahan yang berkelanjutan agar kasus tidak terus berulang.
banner 120x600
banner 728x90

ROKAN HILIR — Warga Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir, kembali menyuarakan harapan agar Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir memperkuat program penanggulangan malaria secara berkesinambungan. Penyakit yang telah lama menjadi persoalan di kawasan pesisir itu dinilai masih muncul setiap tahun dan belum tertangani secara menyeluruh.

Masyarakat menilai berbagai langkah yang telah dilakukan belum memberikan dampak jangka panjang. Penanganan dinilai lebih sering dilakukan ketika jumlah kasus meningkat, sementara upaya pencegahan yang berkelanjutan masih perlu diperkuat.

Tokoh Pemuda Sungai Bakau, Khairul Anwar, S.Kom, mengatakan malaria telah menjadi persoalan yang berlangsung cukup lama di Kecamatan Sinaboi. Menurutnya, pemerintah daerah perlu menyusun strategi yang lebih terukur sehingga pengendalian penyakit dapat berjalan secara konsisten.

“Malaria di Kecamatan Sinaboi bukan lagi persoalan baru, tetapi persoalan yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas. Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan sesaat ketika kasus meningkat, melainkan menyusun langkah yang berkelanjutan dan terukur hingga malaria benar-benar dapat dikendalikan,” kata Khairul.

Ia menambahkan, penguatan pengendalian vektor penyakit, penyemprotan lingkungan secara berkala, penyediaan obat-obatan, edukasi kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan perlu menjadi bagian dari program yang dijalankan secara berkesinambungan.

“Jangan biarkan masyarakat terus hidup dalam bayang-bayang malaria yang datang silih berganti setiap tahun. Sudah saatnya ada komitmen yang nyata agar Kecamatan Sinaboi terbebas dari malaria. Kesehatan masyarakat adalah hak yang harus dipenuhi, bukan sekadar janji yang terus berulang,” ujarnya.

Senada dengan itu, Tokoh Masyarakat Raja Bejamu, Riki Dermawan, S.Sos, menilai dampak malaria tidak hanya dirasakan pada aspek kesehatan, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, serta produktivitas masyarakat.

“Malaria bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi, pendidikan, dan produktivitas masyarakat. Kami berharap pemerintah menghadirkan program penanganan yang berkesinambungan, mulai dari pencegahan, penyemprotan berkala, peningkatan pelayanan kesehatan hingga edukasi kepada masyarakat. Sinaboi membutuhkan solusi nyata, bukan penanganan yang hanya dilakukan ketika kasus meningkat,” katanya.

Sementara itu, Datuk Penghulu Sinaboi, Rafika, menegaskan pemerintah kepenghuluan siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun instansi kesehatan dalam mendukung setiap program pemberantasan malaria di wilayahnya.

“Penanganan malaria membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah kepenghuluan siap mendukung setiap program yang bertujuan melindungi kesehatan masyarakat. Harapan kami, perhatian pemerintah semakin maksimal sehingga angka kasus malaria di Sinaboi dapat ditekan dan masyarakat dapat hidup dengan rasa aman,” ujar Rafika.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir menjadikan pengendalian malaria sebagai program prioritas daerah dengan pelaksanaan yang konsisten. Warga meyakini penguatan pencegahan, layanan kesehatan, penyemprotan lingkungan secara berkala, ketersediaan obat-obatan, serta edukasi berkelanjutan menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus dan mewujudkan Kecamatan Sinaboi yang terbebas dari ancaman malaria.

___

banner 325x30
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *